Maros — Viraljustice.id — Dari sebuah sudut sederhana di Desa Botolempangan, Kecamatan Bontoa, lahir sebuah gerakan besar yang sarat makna. Dalam suasana hangat penuh kebersamaan, berbagai elemen masyarakat berkumpul, menyatukan tekad untuk membangun daerah melalui langkah nyata yang berkelanjutan.
Pertemuan ini menjadi awal dari program penanaman 1.000 pohon durian di kawasan wisata Istana Karst—sebuah inisiatif yang tidak hanya berfokus pada penghijauan, tetapi juga menjadi simbol kuat persatuan lintas elemen demi kemajuan bersama.
Kegiatan ini menghadirkan kolaborasi yang solid antara mahasiswa KKN Universitas Islam Makassar (UIM), Pemerintah Kecamatan Bontoa, Pemerintah Desa Botolempangan, LSM GMBI Distrik Maros, serta Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Maros. Semua pihak hadir dengan satu semangat: gotong royong tanpa sekat.
Dalam diskusi yang berlangsung akrab dan penuh semangat, terlihat jelas bahwa perbedaan latar belakang bukanlah penghalang, melainkan kekuatan. Kebersamaan menjadi fondasi utama dalam merancang masa depan Botolempangan sebagai kawasan yang hijau, produktif, dan memiliki daya tarik wisata yang semakin kuat.
Program penanaman ini juga dirancang sebagai investasi jangka panjang bagi masyarakat. Selain menjaga kelestarian lingkungan, pohon durian yang ditanam diharapkan menjadi sumber ekonomi baru yang mampu meningkatkan kesejahteraan warga. Kawasan wisata Istana Karst pun diproyeksikan berkembang menjadi destinasi unggulan yang memadukan keindahan alam dan potensi agrikultur.
Pelaksanaannya akan berlangsung selama dua hari, dari Sabtu hingga Ahad, dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat setempat. Keterlibatan warga menjadi bukti bahwa pembangunan sejati lahir dari kebersamaan dan kepedulian bersama.
Lebih dari sekadar kegiatan penghijauan, gerakan ini mencerminkan jati diri Botolempangan—daerah yang menjunjung tinggi nilai gotong royong, persatuan, dan semangat untuk terus maju tanpa kehilangan akar budaya.
Dari desa ini, tersampaikan pesan besar: ketika masyarakat, pemerintah, mahasiswa, dan lembaga bersatu, tidak ada mimpi yang terlalu besar untuk diwujudkan. Botolempangan hari ini tidak hanya menanam pohon, tetapi juga menanam harapan, masa depan, dan kebanggaan bagi generasi yang akan datang.
Lp. Suryadi.
